Minggu, 31 Januari 2016

Melawan lupa, Sejarah Mendidik di berbagai Lembaga Pendidikan



Penulis pernah membaca bahwa ada kalimat mengejutkan bagi penulis sendiri dan kemudian berpikir ada benarnya yaitu "Sejarah ditulis oleh yang menang" artinya suatu fiksi yang ditulis berdasarkan imajinasi pemenangnya untuk menutupi kebobrokan pemenangnya, fiksi ini kemudian dilegalkan dan disebarkan sebagai informasi sejarah yang sesungguhnya.

Dan sebagai perlawanan, biasanya pelaku sejarah yang asli yang "dikalahkan" akan menulis suatu cerita sebagai bentuk perlawanan, lalu cerita yang berisi banyak faktanya ini disebut dengan nama "fiksi" agar tidak secara frontal menentang "sejarah fiksi" yang telah dipercayai dan menghegemoni generasi muda yang tidak tahu "apa yang sesungguhnya terjadi", sehingga "fiksi" yang telah syah sebagai sejarah tadi adalah kebenaran.

Hal ini wajar, karena secara alaminya kita manusia memiliki "kelemahan" yaitu "informasi yang diterima pertama kali" adalah "pasti" dianggap sebagai suatu kebenaran. Dan generasi baru sangat rentan dengan kelemahan ini. Hal ini dikuati oleh kalimat "suatu kebohongan bila diinformasikan secara terus menerus akan menjadi kebenaran". Sehingga potensi membuat "konstruksi" kebohongan menjadi "ilusi kebenaran sangat kuat" diterapkan pada generasi muda.

Melawan lupa, adalah salah satu senjata yang dapat dilakukan oleh "orang yang dianggap kalah", bukan berarti kalah. Dianggap kalah dengan kalah sangat berbeda maknanya. melawan lupa adalah dengan cara mengumpulkan banyak data dan pelaku sejarah yang dibentengi dengan para pelaku sejarah yang ada atau dokumen yang ada, sehingga akan sangat sulit untuk dibantah bahwa itu adalah fiksi, sebab data dan saksi berupa data yang sesungguhnya tidak dapat dimanipulasi atau dibantah, di sinilah tantangannya, sehingga kisah melawan lupa yang disebut fiksi ini adalah "fakta" yang sesungguhnya.

Melawan lupa pada sejarah penulis dalam dunia pendidikan, dimulai pada tahun 2007 di salah satu lembaga pendidikan dari pengembangan salah satu media besar di Indonesia, tepatnya di Jakarta. Media pendidikan ini berlokasi awal di Wisma BNI 46 daerah jalan Jendral Soedirman.

Universitas kecil dengan nama yang tidak dikenal. Pada waktu itu penulis adalah pemimpin peminatan DKV di bawah Program Studi Ilmu Komunikasi. Jadi DKV pada saat itu masih merupakan peminatan dari Ilkom saja. Dimulailah penulis menyusun sistem untuk kurikulum, dan distribusi mata kuliah dengan SKS 166 hal ini sesuai dengan inputan Wakil Rektor 1 yaitu Mr. Win.

Jumlah siswa sangat sedikit, baru sekitar 27 mahasiswa. karena universitas baru, yang meng-apply sebagai dosen juga sangat sedikit. Sehingga baru setelah berjalan hampir satu tahun, diterimalah satu dosen dengan nama Mr. Edw. Mr. Edw sangat diperlukan untuk melengkapi perpanjangan izin Prodi Ilkom. tetapi akhirnya menjadi dosen tetap karena "dianggap" berjasa telah "melengkapi" keperluan izin syarat agar izin Prodi Ilkom dapat berlanjut. Dan mencari dosen bagi universitas baru adalah tantangan yang sulit.

Kesulitan dosen ini membuat penulis mengisi  hampir semua mata kuliah yang ada, sangat melelahkan, tetapi penulis sangat bersemangat karena terhegemoni negatif dengan pepatah "guru (dosen) adalah pahlawan tanpa tanda jasa". 

Pemikiran untuk mengembangkan peminatan DKV menjadi besar terus berkecamuk di kepala penulis, sehingga dalam rapat senat terlontar ide-ide penulis membuat acara penganugerahan di bidang sinema, animasi dan grafis. Untuk sinema sudah terpikir dengan nama Ultima Cinema Festival disingkat dengan nama Ulcifest. Ultima adalah singkatan pribadi penulis kepada universitas tersebut.

Dan dengan semangat "guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa" tersebut mampu membuat penulis bertahan hanya dengan dua dosen saja yaitu penulis sebagai dosen dan Mr. Edw sampai dua tahun, sampai pindah ke gedung baru di Summarecon Plaza secara bertahap pada pertengahan sampai akhir tahun 2008..

Pada tahun 2008 ini Wakil Rektor 1 terjadi pergeseran kepemimpinan dari Mr. Win ke Mr. Sug, hal ini membawa perubahan untuk mengupdate SKS distribusi mata kuliah menjadi 144 SKS. Perubahan ini ternyata membawa dampak negatif karena ketidaksiapan pengelolaan data IT dan BAAK.  Sehingga konversi SKS belum berjalan lancar.

Namun dampak perjuangan dari universitas yang kecil dan belum dikenal  mulai menampakkan hasil, dengan jumlah siswa yang semakin bertambah. karena jumlah mahasiswa bertambah, maka dosen DKV ditambah lagi satu orang dengan nama Ms. Luk.

Di sinilah penulis mengusulkan agar DKV menjadi Prodi tersendiri dengan terlepas dari Prodi Ilkom. Maka Mata distribusi mata kuliah lebih dipertajam lagi ke prodi DKV dan mulai melepaskan mata kuliah yang sangat kental dengan Ilkomnya.

Tahun 2009 universitas ini pindah lagi ke gedung tetapnya untuk pertama kali, tahun 2009 berlalu dengan semakin banyaknya minat mahasiswa baru yang bergabung karena adanya peminatan yang lebih spesifik yaitu peminatan desain grafis, animasi dan sinematografi di Prodi DKV. Dan sebagian besar penulis yang masih mengisi untuk beberapa mata kuliah animasi, dekstop publishing, dan sinema. dengan 3 dosen tetap saja yaitu penulis sebagai Kaprodi, Mr. Edw dan Ms. Luk, sangat melelahkan. Jurnal Ultimart mulai muncul, sebagai redpelnya Mr. Msr yang sangat andal dan terbukti selalu terbit.

Tahun 2010 persiapan untuk akreditasi BAN PT, tetapi penulis telah mengusulkan agar Prodi DKV di bawah Fakultas Seni dan Desain, sehingga peminatannya diproyeksikan untuk menjadi prodi yaitu Prodi Desain Grafis (graphic design), Prodi Animasi (animation) dan Prodi Sinematography (cinematoghraphy). 

Usul disambut baik oleh Mr. Sug, tetapi karena sebentar lagi menghadapi akreditasi, maka di-hold dulu dan mulai fokus pada akreditasi prodi. Dan akhirnya penulis fokus untuk melengkapi riset, kerjasama, buku-buku dan hak cipta  pada tahun 2010 ini, sehingga terbitlah buku "Comic Making" yang mendapatkan penghargaan dari dikti, kemudian riset penulis diterima di Hongkong, dan riset lainnya masuk Jurnal di USA, serta karakter "Komodo" juga mendapatkan dokumen hak cipta dari pemerintah.

Pada hampir akhir tahun 2010, karena semakin dekat proses akreditasi yang tinggal 2-3 bulan lagi dan dosen untuk minimal agar terakreditasi memerlukan 6 dosen S2, maka ditambahkanlah 5 dosen baru yaitu Ms. Rat, Mr. Gep, Ms.InR, Mr. Des, dan Ms. Nun. Akhirnya dengan menambahkan kekurangan wajib 6 dosen, data akreditasi siap untuk divisitasi.  

Dan Mr. Sug memutuskan untuk membuat fakultas Seni dan desain menjadi ada, dan secara resmi prodi DKV di bawah Fakultas Seni dan Desain, hal ini terjadi menjelang sekitar satu-dua bulan visitasi akreditasi dan memutuskan untuk mengangkat Mr. Edw sebagai wakil kaprodi karena syarat akreditasi adalah harus ada wakil kaprodi, dan calon wakil minimal sudah 1 semester aktif mengajar, dan yang masuk dalam kategori tersebut adalah Mr. Edw, karena yang lainnya baru 2-3 bulan saja. Dan Mr. Edw dipilih karena juga paling lama kedua setelah saya yang masuk di universitas tersebut.

Visitasi berjalan lancar dengan mendapatkan nilai yang optimal bagi universitas baru yaitu B. Karena keberhasilan inilah, penulis yang awalnya menjadi kaprodi kemudian diangkat menjadi Dekan fakultas Seni merangkap Kaprodi DKV. 

Dengan hasil akreditasi yang optimal, penulis mulai menggalakkan acara yang belum terlaksana seperti Ulcifest, Ultigraph, Cosplay, dan pameran-pameran seni lainnya di tahun 2010 ini. Dan juga di tahun tersebut, penulis mewariskan keterampilan membuat kurikulum, distribusi mata kuliah dan tatacara akademis lainnya kepada dosen-dosen tetap baru tersebut. Tetapi di tahun  ini, satu dosen mulai lulus satu keluar dari universitas tersebut yaitu Ms. Luk. Sebagai penggantinya, masuk dosen baru namanya Mr. Add.

Pembuatan kurikulum dengan sistem baru dan lebih menjurus ke ciri khas yang semakin tajam fakultas seni dan desain dengan penekanan pada Prodi Desain Grafis, Animasi dan Movie yang awalnya hanya berupa peminatan semakin dipertajam pada tahun 2010 ini, ide-ide penulis ke depannya adalah dengan membuat peminatan games dan creative writing. 

Sedangkan yang menjadi peminatan akan meningkat menjadi prodi adalah peminatan animasi, desain grafis dan sinematografi. Tetapi ternyata usulan tersebut kandas, karena Mr. Sug sebagai Wakil Rektor 1 mengundurkan diri. Dan kemudian diganti oleh wakil rektor baru namanya Mr. Top.

Di tahun 2011 siswa Fakultas Seni dan Desain semakin meningkat dengan penerimaan mahasiswa baru sampai 8 kelas dengan jumlah siswa per kelas 45 mahasiswa, belum lagi ditambah dengan mahasiswa sebelumnya sehingga total Mahasiswa Fakultas Seni dan Desain saja mencapai 1400-an Mahasiswa. Usulan peminatan prodi baru di masa Mr. Top tidak berjalan, malah satu dosen juga lulus lagi yaitu Ms. Nun. disusul kemudian tidak berapa lama oleh Mr. Add. Tapi penambahan dosen baru masuk yaitu Mr. Riz. Banyaknya Mahasiswa membuat penulis meminta bantuan siswa-siswa andal dan positive thinking membantu penulis, dan mahasiswa tersebut memang benar-benar membanggakan, membuat penulis terharu akan keandalan mereka.

Namun ditahun ini penulis juga risetnya masuk di Nicograph, serta memenangkan lomba animasi tingkat Asia di Shanghai China. Ultigraph berjalan tahun kedua setelah tahun sebelumnya sukses. Demikian juga Ulcifest dan Cosplay serta acara tahunan mahasiswa yaitu helloween, serta majalah kampus di bawah mahasiswa Mr. Trid

Dan di tahun inilah penulis mengundurkan diri secara bertahap, mengundurkan diri sebagai kaprodi, kemudian mengundurkan diri sebagai dekan, meluluskan diri penulis untuk bergabung dengan universitas lainnya. Tetapi penulis masih sempat memberikan pemikiran penulis dalam laporan pertanggungjawaban selama menjadi kaprodi dan dekan serta proyeksi ke depannya. Dan setelah penulis mengundurkan diri, fakultas seni dan desain di universitas tersebut digantikan oleh Kaprodi baru dan sekaligus menjadi dekan.

Di Universitas yang baru bergabung, penulis juga banyak dibantu oleh mahasiswa dan dosen-dosen yang positive thinking sehingga target akreditasi minimal B juga dapat tercapai. 

Kini penulis melanjutkan studi S3 untuk tetap setia membaktikan diri pada profesi penulis yaitu sebagai dosen, di universitas mana pun. Dan sampai saat ini Penulis masih aktif di Universitas Surya (www.surya.ac.id). Masih berkarya dengan hasil karya Komik Gazing, Novel, Jurnal , Buku dan membantu karya-karya penulis lainnya. Demikianlah sekelumit melawan lupa, semoga memberi inspirasi bagi dosen-dosen lainnya.






Rabu, 27 Januari 2016

SDI: Proteksi Dosen Terhadap Potensi Kecurangan Lembaga Pendidikan di mana Dosen Bekerja

Memproteksi Dosen Berkualitas dari Hegemoni dan Dominasi Informasi Lembaga Pendidikan yang Negatif.

http://jowobot.com/wp-content/uploads/2013/05/proteksi.jpg

Artikel ini adalah kelanjutan dari artikel-artikel sebelumnya. Pembaca dapat membaca artikel sebelumnya yaitu:

1. Lembaga Pendidikan Mengecewakan Anda sebagai Dosen? 

2. Dosen dan Lembaga Pendidikan Berkualitas, Adakah?

Namun pembaca dapat langsung juga membaca artikel ini tanpa membaca artikel-artikel sebelumnya. Dalam artikel ini penulis akan menghubungkan kata "proteksi" sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Namanya proteksi, maka tentu saja tindakan preventif (pencegahan) merupakan tindakan yang wajib dilakukan agar sesuatu yang diinginkan oleh lembaga yang buruk agar tidak terjadi.

Proteksi dalam bisnis kesehatan menjadi sangat berarti. Proteksi dalam dunia kesehatan ini ada banyak cara yaitu dengan:

1. Menjaga pola makan agar melibatkan minimal dalam sehari ada buah yang dapat dikonsumsi dan menghindarkan makanan berlebih yang mengadung kolesterol tinggi dan penyebab asam urat dan penyakit-pernyakit lainnya.

2. Berolahraga dengan teratur minimal 15 menit selama seminggu, namun bila terlalu banyak berolahraga juga akan sakit.

3. Mengonsumsi banyak suplemen kesehatan, tetapi bila berlebihan juga akan sakit.

4. Bila point satu, dua dan tiga sudah dilaksanakan, tetapi tetap sakit juga, maka proteksi berupa asuransi jiwa dan kesehatan menjadi peluang "proteksi" terakhir, yang mirip dengan proteksi yang akan diberikan oleh Serikat Dosen Indonesia.

Mengapa point keempat begitu penting? Asuransi di negara maju menjadi sangat penting karena "memproteksi" seseorang dari "biaya yang tinggi rumah sakit" yang dokter-dokternya telah bersekolah di sekolah mahal, berkualitas dan biaya tinggi bukan untuk "pengabdian sosial" tetapi untuk tujuan "hidup kaya" dengan menarik "biaya tinggi" dari orang yang "sakit". 

Biaya dokter yang tinggi tersebut menjadi terjangkau dengan adanya proteksi dari asuransi. Kini sebagai dosen maka "pembaca tidak berhak kaya" sebab ada hegemoni pepatah yang digunakan sebagai pengaruh negatif buat pembaca yaitu pepatah "Guru (dosen) adalah pahlawan tanpa tanda jasa", jadi dosen "dilarang kaya".

Kini pembaca telah "terhegemoni (mengikuti pikiran dan setuju dan tidak dapat terlepas dari pikiran tersebut)" oleh pepatah tersebut. Pembaca sebagai dosen yang telah mengabdi puluhan tahun dan berprestasi tetapi mendadak disingkirkan karena hasutan dosen lainnya yang terkadang hasutan juga muncul dari HRD yang menggunakan politik "manajemen konflik".

Orang-orang HRD akan menyebarkan dominasi informasi yang negatif terhadap pembaca, maka cepat atau lambat terjungkalah pembaca sebagai dosen, apapun jabatan pembaca di lembaga pendidikan tersebut, dan akhirnya solusinya didepak dari lembaga pendidikan tersebut, dan seorang dosen yang didepak biasanya dosen yang buruk.

Bila pembaca adalah dosen yang baik, maka pilihan pembaca adalah dengan "mengundurkan diri". Namun mengundurkan diri tentu saja akan menyulitkan pembaca secara ekonomi. Kenapa lembaga pendidikan menjadi demikian "buruk?", setahu penulis secara subjektif, "hanya 0,00000000000000000001% suatu lembaga pendidikan memikirkan dosennya" sebab "sebanyak 99,9999999999999999% lembaga pendidikan hanya peduli pada profit dan bukan pada kesejahteraan dosennya".

Bagi lembaga pendidikan, seorang dosen adalah "sapi perahan" yang sudah siap untuk "tidak kaya" seperti pepatah yang selalu HRD tersebut dengung-dengungkan dan seolah sesuatu yang mulia "Guru (dosen) adalah pahlawan tanpa tanda jasa", kalau memungkinkan lembaga tersebut bahkan mengusahakan pembaca akan selalu dihegemoni dengan kata-kata mujarab lainnya yaitu "pengabdian sosial" alias "gratis" menggunakan keahlian dan waktu pembaca sebagai dosen.

Sehingga menyingkirkan dosen perintis adalah salah satu target HRD yang memiliki manajemen konflik ini. Dan karena pembaca adalah perintis lembaga dan salary (gaji bulanan) yang sudah dianggap demikian "besar" maka saatnya pembaca "disingkirkan" dengan berbagai cara. Salah satunya membuat konflik dan isu-isu negatif  dengan membuat dosen lainnya yang "iri" terhadap pembaca sebagai dosen yang berkualitas.

Lalu dosen yang iri ini akan menyebarkan kebencian dan isu negatif kepada mahasiswa-mahasiswa baru atau mahasiswa lama yang pembaca sebagai dosen tidak mengajar di kelas para dosen yang iri tersebut, sehingga dosen dan HRD yang buruk ini akan membuat "konstruksi sosial dan informasi buruk tentang pembaca sebagai dosen", sehingga mendadak pembaca tidak disukai "tanpa sebab". 

Mengapa disingkirkan? Karena bagi HRD akan lebih murah mencari dosen muda dan baru dengan menanamkan pikiran dan hegemoni negatif dengan pepatah "Guru (dosen) adalah pahlawan tanpa tanda jasa" sehingga siap "tidak kaya", sebab yang berhak kaya adalah "orang-orang yayasan" dengan alasan tugas "mulia" yaitu "mencerdaskan bangsa" yang artinya "mengurasi duit orang tua generasi baru bangsa".

Apa yang diberikan Serikat Dosen Indonesia (SDI) bila pembaca bergabung? Yang pembaca dapatkan adalah "proteksi" pembaca sebagai dosen agar setelah pembaca berpestasi tetapi disingkirkan, maka SDI akan memperjuangkan "hak" pembaca sebagai dosen agar hak tersebut pembaca dapatkan dengan cara advokasi.

Cita-cita SDI adalah suatu saat semua dosen memerlukan proteksi SDI sama seperti proteksi asuransi jiwa dan kesehatan. Segera bergabung, mari proteksi diri kita dari lembaga pendidikan yang buruk.



Rabu, 13 Januari 2016

Kualitas: Dosen dan Lembaga Penyelenggara Pendidikan


Kualitas. Tentu saja semua orang suka sesuatu yang berkualitas. Kualitas menjadi acuan bagi segala hal yang dapat diukur dan dibuat tolok ukurnya agar tercapai apa yang disebut sebagai kualitas. Kualitas paling dasar disebut sebagai standar kualitas. 

Berarti kualitas segala sesuatu itu bertingkat-tingkat? Benar sekali. Sehingga ada istilah kualitas satu, kualitas dua dan seterusnya. Penulis yakin para pembaca pernah mendengar istilah KW1, KW2 dan seterusnya, hal tersebut merupakan istilah dari kualitas satu dan seterusnya.

Dalam dunia pendidikan apakah ada kualitas? Tentu saja ada, kualitas untuk pendidikan ini dibagi menjadi beberapa kategori elemen yaitu kualitas untuk: 
1. Lembaga Penyelenggara Pendidikan.
2. Kurikulum
3. Guru (Dosen).
4. Mahasiswa.
5. Lembaga Akreditasi
6. Lembaga Sertifikasi Dosen

Lembaga Penyelenggara Pendidikan. Lembaga yang berkualitas itu bagaimana? Dalam berbagai negara, negara tertentu memiliki aturan tersendiri dalam menentukan kualitas suatu lembaga. Kualitas suatu lembaga pendidikan disebut dengan nama Akreditasi. Kini penulis hanya fokus pada lembaga pendidikan setingkat Sekolah Tinggi dan Universitas.

Lembaga Akreditasi di Negara Indonesia ditangani oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi  (BAN PT). BAN PT memiliki kriteria dalam memberikan "nilai" kepada suatu universitas akankah mendapatkan kualitas C, B dan atau A.

Akreditasi oleh BAN PT ini akan ditinjau lagi selama sekitar empat tahun atau sesuai ajuan visitasi akreditasi yang dilakukan oleh universitas yang mengajukan diri untuk ditinjau universitasnya. Walaupun banyak yang mendapatkan nilai baik yaitu A, tetapi apakah benar universitas tersebut benar-benar berkualitas? Atau adakah sistem akreditasi BAN PT yang kurang bagus?

Menurut penulis, kualitas suatu universitas belum optimal walaupun sudah mendapatkan nilai kualitas tertinggi yaitu mendapatkan A. Hal ini karena penulis melihat adanya kekurangan sistem pengawasan yang berkelanjutan. Sebab hanya empat tahun saja visitasi akreditasi dilakukan.

Hal ini memberikan kesempatan bagi suatu universitas untuk "memoles" dirinya dengan cepat, sehingga seharusnya mendapatkan C menjadi B dan seharusnya B menjadi A, atau bahkan seharusnya A tetapi menjadi B karena asesor yang menilai "subjektif".

Kekurangan sistem akreditasi BAN PT tersebut di mana? 

Penulis memberikan dekonstruksi sistem BAN PT yang kurang optimal tersebut. Yaitu, dengan hanya empat tahun sekali maka kualitas dan problem sesungguhnya suatu universitas "belum optimal" untuk dapat dinilai dengan baik. 

Seperti telah penulis singgung sebelumnya yaitu "tidak berkelanjutan" sehingga menimbulkan "potensi" untuk "memoles" universitasnya agar sesuai dengan kriteria akreditasi BAN PT.

Kini penulis memberikan usulan agar terjadinya sistem akreditasi oleh BAN PT dibuat "berkelanjutan" dengan cara menempatkan "agen" yang tersumpah sehingga melaporkan problem dan kualitas sesungguhnya secara berkala per bulan. 

Dari situ "agen" dari BAN PT tadi akan memberikan laporan yang objektif berdasarkan kriterian BAN PT yang ada. Sehingga penelitian, dosen, dan kriteria-kriteria lainnya dapat terbaca dan terlaporkan dengan jelas dan bukan "akal-akalan" saat divisitasi oleh asesor saja. 

Agen ini tidak di gaji oleh universitas tetapi oleh BAN PT, sehingga laporan itu akan memberikan "kualitas" sesungguhnya saat asesor mendatangi universitas tersebut. Untuk agen ada baiknya juga diganti secara berkala dan ditransfer ke universitas lainnya agar tidak terjalin hubungan "spesial" dengan "para penjilat universitas".

Agen berkelanjutan untuk akreditasi BAN PT ini penulis mengusulkan agar setiap universitas non pemerintah dan pemerintah menjadi lebih berkualitas secara sesungguhnya dan bukan "ilusi" karena "polesan instan". Bagaimana caranya dan diwujudkannya? Penulis siap membantu bila pemerintah memerlukan solusi lebih detilnya.

Kurikulum. Kurikulum yang berkualitas itu bagaimana? Sebelum berbicara tentang kurikulum berkualitas, penulis akan menjelaskan terlebih dulu apa itu kurikulum. Kurikulum bukanlah sekumpulan daftar mata kuliah yang diajarkan  yang disebut dengan nama "Distribusi Mata Kuliah". 

Penulis sering bertemu dengan dosen-dosen dan pejabat universitas yang "tidak berkualitas standar" selalu salah menyebut "distribusi mata kuliah" sebagai kurikulum" dan dosen-dosen yang "buta" apa itu kurikulum ada yang menjabat koordinator mata kuliah, kepala program studi, dekan, wakil rektor bahkan rektornya, ada yang banyak tidak mengerti apa itu "kurikulum".

Lalu kurikulum itu apa? Kurikulum adalah "sistem" pendidikan suatu lembaga penyelenggara pendidikan tersebut. Istilahnya "Sistem Universitas" tersebut, yang mencakup "Visi (cita-cita), Misi (tugas dalam mencapai cita-cita) berserta aturan main yang jelas (rules of the game) bagi yayasan, dosen, staf, mahasiswa, dan semua hal yang diwajibkan dengan kriteria BAN PT". Penulis siap membantu teman-teman universitas melalui Serikat Dosen Indonesia (SDI) bila ingin lebih detil mengetahui apa itu kurikulum.

Dosen. Dosen berkualitas? Apakah ada dosen berkualitas? Tentu saja ada, tetapi penulis mengklaim secara subjektif, ada lebih dari 95% dosen di semua universitas "tidak" berkualitas dan membuat buruk kualitas lulusan yaitu "mahasiswa" yang juga tidak berkualitas. Istilah kerennya "Trash in (Universitas buruk, kurikulum buruk, dosen buruk) trash out (hasil lulusan berupa mahasiswa yang buruk).

Bagaimana bisa dosen tidak berkualitas akhirnya menjadi dosen suatu lembaga penyelenggara pendidikan? Dosen tidak berkualitas disebabkan oleh dua faktor. Faktor pertama adalah sistem yayasan (penyelenggara pendidikan suatu universitas) yang buruk dan dosen yang memang buruk.



Yayasan universitas yang buruk memang sejak awal sudah memiliki "rencana" untuk menyingkirkan para perintis. Yayasan universitas yang buruk memiliki hegemoni "Guru (dosen) adalah pahlawan tanpa tanda jasa" yang berarti "jangan mengharapkan hidup mewah dan biarkan kami orang-orang yayasan saja yang kaya" sebab kata-kata yang biasanya muncul entah dalam visi atau misi suatu yayasan untuk pendidikan adalah "mencerdaskan bangsa" yang memiliki arti lain "menguras uang orang tua generasi bangsa".

Dan dipastikan yayasan yang buruk ini "tidak peduli' dengan dosen-dosen berkualitas sebab yang penting bagi yayasan adalah "pemasukan laba yang berkualitas". Sehingga tidak heran universitas buruk akan memiliki strategi membuat "konflik" antar dosen dan dosen yang menjabat jabatan strategis di semua levelnya.

Sehingga muncul "pecah belah yang semakin meruncing" karena HRD-nya juga ternyata "kacau" dan pasti kacau karena yayasannya juga "kacau". Bukankah "yayasan" tujuannya nirlaba? Tidak ada yang namanya "nirlaba" untuk "yayasan" versi Indonesia ini, sebab intinya adalah "mendapatkan laba dan bila perlu menggunakan topeng manipulasi mendapatkan empati masyarakat dalam dan luar negeri dengan istilah "yayasan". Tetapi bukan berarti tidak ada yayasan yang baik, pasti ada, cuma memang kebanyakan tidak baik.

Yayasan yang buruk biasanya  lebih dari 90% dosen-dosen perintis (awal) di universitas akan hengkang karena "manajemen konflik" yang dibuat oleh orang-orang yayasan dan HRD universitas tersebut. Apakah universitas tempat pembaca mengabdi menjadi "pahlawan tanpa tanda jasa" memiliki tanda-tanda tersebut? 

Bila iya, maka bergabunglah dengan kami SDI agar kami membantu pembaca yang berprofesi sebagai dosen untuk mendapatkan "hak" yang belum diberikan padahal "kewajiban" telah dituntaskan.

Dosen yang buruk? Dosen yang buruk banyak sekali, mulai dari dosen yang tidak memiliki keilmuan yang sesuai dengan mata kuliah yang diajarkan, dosen yang tidak memiliki keterampilan praktek sehingga setiap pertemuan yang seharusnya praktek malah teori saja isinya, atau kebalikannya, dosen yang tidak bisa teori sehingga praktek apa yang diajarkan tidak sesuai teori dan tidak optimal karena tidak mengerti prinsip-prinsipnya, dosen yang tidak memiliki courseplan (course outline/ silabus), dosen yang tidak memiliki course rundown atau Bahasa Indonesianya disebut sebagai satuan acara perkuliahan (SAP) untuk tiap pertemuan di kelas.

Kriteria penilaian dosen yang tidak jelas dan tidak objektif pada saat tugas dan ujian pada mahasiswa, sehingga ada potensi penilaian secara "subjektif" sehingga nilai dapat dimanipulasi dengan "uang" dan "kencan" untuk dosen dari mahasiswa yang juga akan menjadi buruk karena mendapatkan universitas, sistem kurikulum yang buruk, dan dosen yang buruk .

Dosen yang hanya memiliki ijasah pendidikan tinggi tapi ilmu teori dan prakteknya kosong, dosen yang sudah bersertifikasi tetapi tidak melakukan kewajibannya yaitu penelitian, pengabdian sosial dan hanya mengajar saja. Dosen yang tidak ada 'penelitian" dan "pengabdian sosial ini" ternyata "hanya menerima uang pemerintah" tetapi masih saja terus menerima uang dari pemerintah tersebut, ini dosennya yang salah? ataukah sistem pemerintah yang salah? Sepertinya dua-duanya.

Dengan SDI, maka universitas yang dirugikan oleh dosen-dosen yang buruk, dosen yang tidak berkualitas ini dapat merusak sistem universitas yang baik, bahkan memperburuk universitas yang sudah buruk. Era globlalisasi sudah datang dengan istilah Masyarakat Ekonomi Asia, di mana untuk mengantisipasi "dosen" dari luar negeri dan dalam negeri yang buruk serta meningkatkan kualitas dosen secara internasional, maka SDI menginisiasi adanya "sertifikasi kualitas dosen". Sehingga para dosen benar-benar berkualitas dengan tolok ukur yang jelas, mampu bersaing di dalam dan di luar negeri.

Mahasiswa. Mahasiswa yang baik adalah yang memiliki keilmuan sesuai program studinya, memiliki kreatifitas, inovasi, siap berwirausaha mandiri dan memiliki kemanusiaan yang tinggi untuk membangun bangsa. Dapat diprediksi apa yang terjadi bila mahasiswa tersebut diluluskan dari universitas yang buruk dan dosen yang buruk. Mahasiswa lulusan yang buruk adalah setelah lulus tidak memiliki keterampilan apa-apa, tidak memiliki sifat kemanusiaan yang tinggi, dan intinya lulusan yang bodoh dan membuang uang orang tua saja.

Tentu saja pepatah "trash in trash out" benar-benar terjadi. Apakah pembaca adalah dosen yang buruk? Ataukah teman pembaca adalah dosen yang buruk ataukah universitas pembaca adalah universitas yang buruk? Siapkah Dosen Indonesia bersaing dengan dosen dari negara lain? Saatnya membangun semuanya di SDI.
# Bosan jadi dosen? Salary kecil walaupun mengabdi puluhan tahun? Mau salary besar? Click di link berikut




Selasa, 05 Januari 2016

Debat? Diskusi? Rencana kerja dan melakukannya

https://www.facebook.com/groups/1386170501607347/

Berdebat, wuaaah Orang Indonesia menurut penulis secara sepihak dan subjektif terdapat lebih dari 90 persen Warga Negara Indonesia sangat andal dalam melakukannya. Berdebat dengan nama keren "diskusi" bahkan diembel-embeli dengan nama ilmiah, menjadi resmi, ada "lomba debat" dan bahkan dibuat konferensinya, bahkan masuk dalam proseding ber-ISBN serta dalam jurnal-jurnal nasional bahkan internasional.

Tetapi apa yang terjadi? Negara Kita Indonesia tidak menjadi lebih baik, malah terjebak lebih dalam lagi dalam jurang yang namanya debat dengan nama keren diskusi ini. Bahkan para pelaku diskusi ini sangat andal dalam berdikusi sampai-sampai semua teknik diskusi dipelajarinya, bahkan mengerti benar apa itu dekonstruksi dalam kata-kata bahkan membuat rekonstruksi yang ada kemungkinan diklaim sebagai terobosan baru.

Di sisi lainnya ada bahkan sangat andalnya dalam berdebat sehingga "takut" dalam melakukan suatu aksi nyata sehingga terwujud dalam perbuatan. Kerja orang andal tersebut hanya menjadi seperti "penabuh gong" yang sangat bergembira sekali bila seseorang yang bekerja nyata kemudian melakukan kesalahan.

Orang "penabuh gong" tersebut akan bilang "Tuh kan benar apa yang aku katakan" sembari  menepuk dirinya lalu menginjak orang yang telah 'berbuat nyata tetapi melakukan kesalahan" tadi kepada orang yang menjadi atasannya "si pelaku aksi nyata tetapi membuat kesalahan" atau kepada orang andal yang "bahkan tidak melakukan kesalahan dan terus berhasil dan beprestasi", kemudian si "penabuh gong" ini naik pangkat tanpa berbuat apa-apa dan tetap berkomentar bahwa "dia lebih baik" dari si pelaku aksi nyata dari segi apa pun.

Para andal debat ini penulis sebut sebagai "penabuh gong" yang pandai menjilat, menghasut dan menginjak orang lain hanya dengan "kata-kata saja" tanpa aksi nyata, dan "penabuh gong" ini banyak sekali yang menempati posisi jabatan tinggi di segala lini bidang kehidupan Bangsa Indonesia sejauh ini.

Tidak heran para pejabat penting yang mengisi lini-lini atas yang penting ini menjadi "kacau" saat di atas. Sebab biasanya merekalah yang mengkritisi dengan berbekal pendidikan yang tinggi. Sehingga "para penabuh gong" ini merasa semakin tinggi pendidikannya merasa punya bekal lebih kuat lagi untuk mengkritisi, mendebat, menjilat, berkorupsi dan menipu orang lain dengan kepandaiannya. Namun saat mereka berada di posisi di atas yang memang selalu menjadi makanan empuk para "penabuh gong" lain yang memang andal berdebat, kini posisi berganti arah.

Akhirnya mereka saat di atas yang tentunya merupakan posisi yang sangat lemah bila tidak memiliki prestasi yang nyata "para penabuh gong" ini kemudian menggunakan cara yang biasanya mereka gunakan dalam mencapai posisi atas, yaitu mengumpulkan "orang bodoh, para penjilat, para penabuh gong lainnya  yang banyak" untuk menempati posisi di atas lainnya tetapi masih di bawahnya dan diadu dombalah mereka ini oleh atasan mereka yang juga "seorang penabuh gong".

Hasilnya tentu saja kacau balau. Sebab "para penabuh gong" hanya mampu memimpin satu lini saja yaitu "dia dan rakyat golongannya langsung" dan sudah pasti "para penabuh gong" ini tidak memiliki kemampuan untuk memberi "mandat" kepada pemimpin-pemimpin di tengahnya, karena para pemimpin tengahnya juga "para penabuh gong", sehingga saat diberi tugas, jawaban mereka adalah "Kamu ingin memanfaatkan aku?" Maaf, silakan kerjakan sendiri", begitulah jawaban pasti "para penabuh gong" yang ada di bawahnya yang telah diangkatnya.

Akhirnya dia merasa bahwa posisinya sangat terancam oleh orang lain yang juga merupakan para bawahannya yang juga "para penabuh gong". Suatu saat dia memiliki orang andal dan mampu bekerja nyata dengan bukti nyata, bukan pencitraan yang dilakukan oleh atasan-atasan yang merupakan "para penabuh gong" itu.

Orang andal ini memiliki rencana kerja dan si "penabuh gong" tahu dengan nama bahkan yang lebih keren yaitu "workplan" dalam waktu setahun si orang andal ini rencana kerjanya jelas, dalam satu bulan dia akan melakukan apa, dalam waktu tiga bulan dia akan melakukan apa, dalam waktu satu semester dia melakukan apa dan dalam satu tahun dia melakukan apa, sehingga dalam satu tahun ada banyak hal yang dilakukannya.

Si orang andal ini selain memiliki workplan dia juga memiliki "apa yang harus dilakukan hari ini" dengan nama keren "today to do lists" yang berisi minimal 2 hal yang harus dilakukan sebagai langkah aksi nyata harian yang sesuai dengan workplan selama sebulan, selama tiga bulan, selama enam bulan dan selama setahun.

Dengan adanya 'today to do lists dan workplan" orang andal tersebut melakukan apa yang ditulisnya, apa yang dikatakannya, apa yang direncanakannya dalam suatu perbuatan nyata (integritas). Sehingga hidupnya terarah, indah, fokus, tidak mengganggu orang-orang lainnya dan sukses dalam setiap langkahnya.

Karena orang andal tersebut mampu menjadi seorang  yang mampu menunjukkan pencapaiannya (achiever), maka diilirik oleh "si penabuh gong" atasan tadi. Sehingga lembaga "si penabuh gong" tadi sukses dan dianggap si penabuh gong tadi adalah seorang achiever juga, padahal bukan, hanya main klaim saja, begitulah ulah "penabuh gong".

Lembaga tersebut berkembang pesat, tetapi "si penabuh gong" yang telah menjadi atasan orang andal tadi merasa khawatir bahwa orang andal ini akan menjatuhkan dia, padahal orang andal ini tidak pernah mengurusi orang lain atau menyakiti orang lain dengan fitnah dan dengki.

Atasan orang andal ini kemudian membuat rencana yang pernah dilakukan oleh dia selama ini, yaitu menjadi 'seorang penabuh gong sejati". Maka "si penabuh gong" atasan ini membuat rencana busuk bagi orang andal tersebut, yaitu dengan menghasutnya dengan mengajak "para penabuh gong" lainnya yang selama ini tidak suka dengan pencapaian si orang andal tersebut.

Dengan cara memberi kesempatan kepada bawahan si orang andal ini untuk melaporkan segala jurus dan kerja si orang andal ini langsung kepada dirinya. Si penabuh gong ini berpura-pura sebagai "singa" atau "harimau" yang akan berada di depan yang akan membantu bawahan si orang andal ini untuk menjadi pimpinan menggantikan si orang andal. Sehingga si orang andal tadi akhirnya tidak dipedulikan lagi oleh si bawahan yang memiliki sifat sebagai "penabuh gong" juga.

Fitnah dan hasutan berhasil dilakukan, terjengkanglah si orang andal dengan kerja nyata yang baik tadi, masih ingat pepatah "orang bodoh, penjilat dan para penabuh gong sangat berbahaya bila jumlah mereka banyak?". Dan posisi tersebut akhirnya dipegang oleh bawahan orang andal dengan kerja nyata sebelumnya. Seorang "penabuh gong" yang telah menggantikan posisi "orang andal" yang telah keluar dari lembaga tersebut. Si penabuh gong kini di bawah "si penabuh gong" lainnya.

Proses akan terus berputar seperti itu. Seperti energi "negatif akan terus bergerak" si penabuh gong akan terus bergerak mempertahankan dominasinya secara nyata ataupun secara halus (hegemoni fitnah negatif) dengan cara memberi peluang dan harapan bagi "penabuh gong" lainnya untuk menyingkirkan orang andal di mana pun mereka berada.

Orang andal dengan kerja nyata adalah energi positif akan diam dan tetap positif untuk berprestasi. Orang andal dengan kerja nyata yang keluar akhirnya tahu bahwa "penabuh gong" yang menjadi atasannya adalah "seorang penabuh gong" yang dia pikir sebelumnya bahwa atasannya adalah seekor "singa" tetapi ternyata adalah seekor "tikus" yang menyamar.

https://s-media-cache-ak0.pinimg.com/736x/78/c1/00/78c10006d892a81cb2278e8ddd011e32.jpg

Tetapi ada orang andal dengan kerja nyata yang tidak mau lagi menjadi "korban" para penabuh gong ini. Mereka akan mandiri, membantu sesama bagi orang lain yang menjadi "penabuh gong" tersebut. Para orang andal dengan kerja nyata ini sadar bahwa "dia sendirilah singa" itu, dan dia terpanggil untuk membuat perubahan.

Serikat Dosen Indonesia adalah salah satu wadah bagi "orang andal dengan kerja nyata" yang menjadi korban "para penabuh gong" ini. Kita semua adalah buruh, dan buruh dengan pendidikan tinggi ternyata menjadi lebih "patuh dan penakut" dari para buruh kasar.

Kenapa begitu? Karena seseorang yang memiliki pendidikan tinggi cenderung menjadi "penabuh gong" memiliki sifat "tikus yang menyamar sebagai singa" dan hanya andal berdebat. Dengan alasan "walau ditipu ya jangan menonjok si penipu seperti buruh kasar saja, mana pendidikan tinggimu?"

Benar sekali kita tidak perlu menonjok penipu dan penabuh gong yang telah membodohi kita. Tetapi kita dapat menuntut mereka secara hukum (advokasi) dengan bantuan Serikat Dosen Indonesia (SDI), mari bersatu.

Dengan bersatu orang bodoh, penjilat dan penabuh gong dengan jumlah banyak dapat menjatuhkan kita. Maka dengan filosofi yang sama "orang cerdas bila bersatu padu dalam Serikat Dosen Indonesia juga mampu menjatuhkan penabuh gong yang berada di atas".

Ingat pepatah ini "Presiden takut dengan rakyat, hal ini terbukti saat reformasi", demikian juga "seorang penabuh yang menjabat dalam suatu lembaga pendidikan juga akan takut dengan dosen dan mahasiswa yang cerdas".

Mari kita dekonstruksi kata-kata yang sering digunakan untuk menghegemoni negatif dosen dan guru yaitu "Guru (dosen) adalah pahlawan tanpa tanda jasa" benarkah? Sehingga dengan kata-kata tersebut "melegalkan" mereka para 'penabuh gong" yang menduduki jabatan tinggi di suatu lembaga pendidikan menggunakan "pepatah tersebut" untuk menghasilkan keuntungan dan kepentingan ekonomi mereka sendiri lalu setelah 'orang andal" telah berprestasi lalu ditekan, dirampas haknya dan difitnah?

Saatnya berhenti "terhegemoni negatif" dengan pepatah tersebut dan memperjuangkan "hak" yang telah dirampas padahal 'kewajiban" telah diberikan. Mari bergabung di SDI, hati-hati ada kemungkinan Andalah "penabuh gong" itu atau mungkin teman dekat Anda, mari jadilah "singa" sesungguhnya.

SDI Pusat: https://www.facebook.com/groups/1386170501607347/
SDI Bali: https://www.facebook.com/groups/1615499585368264/
SDI Bandar Lampung: https://www.facebook.com/groups/693733790741346/

Kontak kami untuk membantu dosen andal lainnya di Seluruh Kota Indonesia dengan membuat SDI di kota Anda.

# Bosan jadi dosen? Salary kecil walaupun mengabdi puluhan tahun? Mau salary besar? Click di link berikut


Jumat, 01 Januari 2016

Jurnal Studi Kultural Volume 1 Nomor 1 Januari 2016 ISSN 2477-3492


An1mage Jurnal Studi Kultural ini bertujuan untuk memberikan ruang dan kesempatan bagi peneliti untuk mengkritisi, berfikir kritis (critical thinking) guna mendekonstruksi segala hal yang merugikan bagi kehidupan masyarakat secara umum dan khusus, serta merekontruksinya menjadi lebih baik lagi diberbagai bidang secara berkelanjutan.

Sasaran An1mage Jurnal Studi Kultural ini adalah hal-hal yang bersifat dominasi, hegemoni, mitos dan konstruksi negatif oleh suatu entitas dalam bentuk pemerintahan, masyarakat, komunitas dan berbagai lembaga dan atau individu yang merugikan entitas lainnya dalam jumlah sedikit atau banyak yang akhirnya menjadikan entitas lainnya termarjinalkan dan dirugikan dalam berbagai bentuk.

Dengan semangat tersebut itulah maka An1mage Jurnal Studi Kultural menjadi barometer dari temuan-temuan budaya dan kebudayaan yang ternyata kita tidak sadar bahwa temuan dari para peneliti itu ternyata merugikan entitas lainnya. Syarat untuk laporan penelitiannya masuk di An1mage Jurnal Studi Kultural sangat mudah, kirimkan dalam format yang Anda ketahui terlebih dulu ke: an1mage@an1mage.org

Kemudian  kami  akan memberikan inputan Bahasa Indonesia yang baik dan benar dan struktur format versi An1mage Jurnal Studi Kultural, serta kami juga akan memberikan template agar desain dan tampilannya seragam. Pastikan tidak melebihi tujuh lembar halaman sesuai ukuran template tersebut. Kami tunggu karya hebat Anda untuk membangun dunia yang lebih baik.



M.S. Gumelar

Redaktur Pelaksana

Silakan Share Jurnal Studi Kultural